Skip to main content

Digital Minimalism : On Living Better with Less Technology

Setelah saya (secara tidak sengaja) "terekspos" dengan gagasan Cal Newport mengenai quit social media, saya sudah cukup yakin akan berhenti menggunakan media sosial secara aktif. Tapi karena masih ingin mengulik lagi tentang digital minimalism, akhirnya saya baca bukunya. Isi buku ini sangat membuka mata sehingga saya pikir semua orang harus mengetahui dan menerapkan filofosi digital minimalism ini sesegera mungkin. Karena teknologi akan selamanya ada dan terus berkembang dalam hidup kita. Perkembangannya begitu cepat sehingga jika kita tidak take a step back and pause untuk benar-benar berpikir apakah ini baik atau buruk, kita akan terus terbawa arus. Ingat masa-masa awal sosial media? Friendster, Myspace, lalu Facebook, Twitter, Path, sekarang Instagram. Sepertinya sampai kiamat tidak akan ada habisnya. Sudah saatnya kita menentukan, mau terus-menerus mengikuti perkembangan terbaru atau selektif memilih mana yang benar-benar kita butuhkan? 

Sepertinya di Indonesia, pembicaraan mengenai digital minimalism belum banyak dibicarakan. Beberapa kali saya menemukan orang menjalankan proses "detoks" dari media sosial, tapi sepertinya berbeda dengan apa yang dijabarkan oleh penulis dalam buku ini. Buku Digital Minimalism ini pun belum ada versi terjemahan Bahasa Indonesianya. Maka dari itu saya mencoba menceritakan kembali isi dari buku ini dengan bahasa saya, dengan tujuan semakin banyak orang yang mengetahui dan menerapkan filosofi ini. 

Note: Maksud dari istilah teknologi baru dalam buku ini adalah teknologi terbaru seperti aplikasi, website, dan alat digital lainnya yang diakses lewat komputer atau ponsel yang bertujuan untuk menghibur, memberikan informasi, atau koneksi. Misalnya Whatsapp, Facebook, Instagram, Reddit, Twitter, dll. Termasuk video games, Netflix, dan semacamnya. 

Teknologi Hari Ini 

Kalau kita berhenti sejenak dan berpikir, sebenarnya kenapa kita jadi begitu terikat dengan ponsel, dan segala macam layanan online di dalamnya? Ketika era awal kemunculan smartphone, hidup manusia sepertinya sangat terbantu, karena beberapa aktivitas yang sebelumnya harus dilakukan di lebih dari satu perangkat, bisa dilakukan hanya lewat satu smartphone. Menelpon, sms, dan beberapa pekerjaan yang tadinya hanya bisa dilakukan di komputer, bisa dikerjakan dengan praktis di smartphone. Pada awalnya ponsel adalah bagian kecil dalam hidup, tapi sekarang ponsel canggih ini sudah begitu mendominasi sebagian besar hidup kita. 

Seorang "pro teknologi" pasti akan berargumen, teknologi baru ini telah memberikan begitu banyak kemudahan dan manfaat dalam hidup. Misalnya layanan chatting yang sangat membantu seorang tentara yang sedang bertugas jauh dari rumah untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Biasanya, perdebatan selesai sampai di sini. 

Tapi sebenarnya ada  hal lain yang tidak tersingkap. Kenyataannya teknologi baru telah mendikte bagaimana kita berperilaku, bagaimana perasaan kita, dan memaksa kita untuk menggunakannya lebih dari yang kita anggap sehat. Bahkan seringkali mengorbankan hal yang justru lebih bermanfaat. Kita telah kehilangan kontrol atas diri kita dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi perdebatannya bukan tentang berguna atau tidak, melainkan tentang otonomi atas diri sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi? Ternyata bukan karena kita malas jadi kita lihat ponsel terus-menerus, tapi karena ada miliaran dollar yang telah diinvestasikan untuk membuat hal ini tidak dapat dihindari. 

Mesin Judi dan Tembakau 

Kutipan wawancara Bill Maher dengan Tristan Harris yang menyebutkan 
bahwa Silicon Valley tidak netral dan memprogram manusia, bukan aplikasi


Tristan Harris
, seorang mantan engineer Google adalah orang yang banyak mendapat spotlight beberapa tahun belakangan ini. Saat ia bekerja di bagian inbox gmail, ada kekhawatiran yang muncul di dalam dirinya. Ia menulis sebuah proposal berjudul "A Call to Minimize Distraction and Respect User's Attention" yang sampai ke CEO Google saat itu, Larry Page. Proposalnya didiskusikan, tapi tidak ada perubahan yang terjadi setelahnya. Menurut Harris, Google enggan melakukan tindakan lebih lanjut atas kekhawatirannya adalah karena alasan simple: mengurangi distraction dan menghormati perhatian pengguna akan berakibat pada penurunan keuntungan bagi perusahaan.

Perusahaan seperti Google dan Facebook, memiliki model bisnis sebagai berikut: Setiap aktivitas yang dilakukan seorang pengguna di produk mereka, dicatat menjadi sebuah data. Data tersebut dijual kepada pengiklan. Agar semakin banyak iklan yang dilihat, ada algoritma yang bekerja begitu canggih, dengan tujuan membuat seorang pengguna menghabiskan waktu selama mungkin dalam menggunakan produk mereka. 

Itulah mengapa media sosial (dan berbagai layanan internet lainnya) bersifat sangat adiktif. Ada dua hal yang mendukung teknologi baru menjadi begitu adiktif: intermittent positive reinforcement dan the drive for social approval yang dapat dilihat dari fitur Like yang pertama kali diperkenalkan oleh Facebook.

    Intermittent Positive Reinforcement 

Setiap kita mengunggah sesuatu di sosial media, kita akan "gambling" terhadap dua kemungkinan yang bisa terjadi: apakah kita akan mendapat likes, retweet, atau semacamnya, atau tidak ada feedback sama sekali?  Secara psikologis, inilah mengapa kegiatan posting dan checking menjadi sangat menarik untuk dilakukan. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi mengeluarkan lebih banyak dopamin, sebuah senyawa dalam tubuh yang memiliki peran sebagai neurotransmitter untuk perasaan craving, dibandingkan dengan sesuatu yang berpola dan mudah diprediksi. 

Bukan hanya fitur Like di media sosial, tapi juga termasuk situs berita dan semacamnya. Ketika membuka satu website untuk cek cuaca hari ini misalnya, sering kali kita akan berlanjut membuka website lain yang tidak ada hubungannya dengan cuaca. Setiap membuka link yang terhubung, kita seperti sedang bermain mesin judi. 

    The Drive for Social Approval  

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa benar-benar mengabaikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Ini sudah terjadi sejak dulu kala, ketika manusia di jaman Paleolitikum hidup dengan bersuku-suku, hubungan antar sesama sangat diperhatikan untuk bisa bertahan hidup. Ketika abad 21, teknologi baru seolah-olah membajak kebutuhan ini untuk menghasilkan behavioral addiction  semata-mata untuk keuntungan perusahaan. 

Kembali ke fitur Like. Feedback dari orang lain atas apa yang telah diunggah adalah sesuatu yang penting bagi pengguna media sosial. Jika banyak like yang didapat, ada semacam sense diterima oleh masyarakat. Sementara jika sedikit feedback yang diperoleh, dapat menimbulkan perasaan cemas atau sedih. Hal ini tidak dapat disepelekan, karena social approval bisa menjadi sangat berbahaya. Contoh yang sering terjadi, dorongan untuk membalas chat secepat mungkin, meskipun dalam kondisi berbahaya sekalipun (misalnya sedang menyetir). Otak Paleolitikum kita menganggap ini sama dengan menghina anggota suku yang berusaha menarik perhatian kita saat prosesi api unggun. 

Peran Tristan Harris sebagai pelapor/whistleblower dari perusahaan teknologi dengan produk digital nya, bagaikan Jeffrey Wigand yang juga menjadi whistleblower perusahaan rokok Philip Morris yang telah merekayasa rokok menjadi lebih adiktif.  

    "Philip Morris just wanted your lungs. The App Store wants your soul" - Bill Maher

Sekarang, kita seperti sedang berada di peperangan senjata yang berat sebelah. Perusahaan teknologi baru menggunakan sifat dasar manusia dan memanfaatkan kelemahan di otak untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Untuk itu, kita membutuhkan cara untuk memenangkan peperangan ini, melalui digital minimalism

Digital Minimalism 

Adalah filofosi dalam penggunaan teknologi, dimana kamu menggunakan waktu di dunia maya untuk hal-hal yang sudah diseleksi dengan hati-hati dan mengoptimalkan penggunaannya untuk memberikan manfaat, dan dengan senang hati meninggalkan yang hanya sedikit manfaatnya. Seorang digital minimalist akan mempertimbangkan dengan hati-hati, apakah dengan menggunakan sebuah aplikasi misalnya, manfaat nya lebih besar dari hanya sekedar memberikan sedikit kemudahan. Kalaupun ada teknologi baru yang bisa memberikan manfaat di hidupnya, dia akan berpikir dulu, apakah ini adalah cara terbaik untuk mendukung value dalam hidup? Dengan melakukan seleksi yang hati-hati ini, dia akan menjadikan teknologi baru sebagai alat untuk menunjang hidup, bukan sebagai sumber pengalihan (distraction). Kebalikan dengan maximalist, dia akan menggunakan segala macam teknologi yang menarik baginya, walaupun sebenarnya hanya sedikit manfaat yang bisa diambil dan lebih banyak merugikan. 

Prinsip digital minimalism 

1. Clutter is costly 

Dengan mengalihkan waktu dan perhatian dengan banyak gadget, aplikasi, dan layanan di internet, akan lebih banyak negative cost dibanding dengan manfaat kecil yang bisa didapat 

2. Optimization is important

Penting untuk menentukan apakah dengan menggunakan teknologi ini akan memberikan nilai dan manfaat. Untuk mendapatkan nilai dan manfaat itu, penting juga untuk menentukan bagaimana cara kita akan menggunakannya

3. Intentionality is satisfying 

Menggunakan teknologi dengan kesadaran penuh, bukan hanya sekedar pakai karena semua orang menggunakan.

Untuk menjadi seorang digital minimalist, perlu langkah besar dan cepat untuk berubah dari kebiasaan lama kita dalam menggunakan teknologi (terutama online).  Kalau dengan perubahan kecil dan sedikit - sedikit, tidak akan berhasil. Karena kita berkejaran dengan waktu dan teknologi yang terus - menerus 'memanggil' untuk digunakan. 

Tiga langkah pertama untuk menjadi digital minimalist:

1. Menentukan kategori 

Sebagai langkah pertama, kita harus menentukan mana teknologi yang wajib dan mana yang opsional dalam kehidupan sehari-hari. Semua teknologi yang jika kita stop penggunaannya selama 30 hari tidak akan berdampak pada pekerjaan dan hubungan personal, masuk ke dalam kategori opsional.

Misalnya email, jika digunakan untuk menghubungi klien atau bos, berarti masuk ke dalam kategori wajib. Tapi kalau digunakan untuk menghubungi teman di luar negri yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, dan hubungan pertemanan kita akan baik-baik saja kalau selama 30 hari tidak kontak, masuk ke dalam kategori opsional. Contoh lain adalah Whatsapp. Jika digunakan untuk menghubungi orang tua, anak, suami, dalam kegiatan sehari-hari, masuk ke kategori wajib.

Kita bisa menerapkan 'prosedur pelaksaan' untuk beberapa teknologi yang bisa masuk kedalam kedua kategori. Dalam buku diceritakan kasus mengenai seorang Ibu yang ingin berhenti dari kebiasaan terus menerus chatting karena keluarga besarnya sangat aktif di aplikasi chatting. Tapi dia memiliki suami yang sering bepergian, dan sering menghubunginya melalui sms. Yang dilakukan sang ibu adalah mengatur nada dering khusus untuk suaminya, sehingga ia hanya perlu mengecek ponsel ketika ada sms dari suaminya.

2. Tiga puluh hari tanpa teknologi opsional

Selama 30 hari, kamu sama sekali tidak boleh mengakses teknologi yang masuk ke dalam list opsional, kecuali untuk teknologi yang sudah diatur 'prosedur pelaksanaan' nya. Untuk beberapa minggu pertama proses ini akan terasa berat, tapi penting untuk dijalani. Adalah sebuah kesalahan jika kamu berpikir bahwa ini hanyalah sekedar proses detoksifikasi. Goal nya adalah bukan sekedar break dari teknologi opsional, melainkan untuk menentukan apakah teknologi opsional itu benar-benar kita butuhkan. Untuk mencapai goal ini, selama 30 hari ini kamu harus mencari aktivitas yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang dimana kamu biasanya mengakses teknologi opsional tersebut. Pada hari ke 30, nantinya kamu akan bisa memahami bahwa ada cara lain untuk mengisi waktu luang di luar dunia digital yang selalu 'shiny & on'.

3. Menghadirkan kembali 

Goal dari tahap ini adalah memulai hari baru dari titik nol, dan hanya menghadirkan kembali teknologi yang bisa melewati 3 tahap seleksi pertanyaan: apakah teknologi ini benar-benar memberikan manfaat untuk hidup saya? Jika hanya bisa memberikan sedikit manfaat, seorang digital minimalist akan dengan senang hati menghilangkannya. 

Contoh kasus, misalnya kamu menentukan bahwa membuka Twitter itu buang-buang waktu dan hanya sedikit manfaatnya. Tapi, terus update dengan foto keponakan di Instagram sepertinya penting untuk menjaga hubungan dalam keluarga. Jadi untuk pertanyaan pertama, jawabannya adalah Ya. Ketika satu teknologi berhasil melewati seleksi pertama, seleksi selanjutnya adalah apakah teknologi ini adalah cara terbaik untuk mendukung value (re: hubungan keluarga) ini? Mungkin kamu akan berargumen, karena hubungan keluarga sangat penting, maka Instagram penting untuk tetap digunakan. Namun jika dipikir lebih dalam, mungkin untuk menjaga hubungan keluarga, se simple menelpon keponakan sebulan sekali lebih mengeratkan hubungan dibandingkan dengan sekedar lihat fotonya di Instagram. 

Jika ada satu teknologi yang berhasil lulus seleksi tahap pertama dan kedua, seleksi yang terakhir sebelum kamu bisa menghadirkan kembali teknologi tersebut ke hidupmu adalah, bagaimana caranya saya akan menggunakan teknologi ini, supaya saya bisa mengambil manfaat dan menghindari bahaya nya? 

Misalnya, alasan menggunakan Facebook bukan sekedar untuk menunjang kehidupan sosial. Melainkan memiliki tujuan dan cara yang lebih spesifik, seperti membuka Facebook di komputer setiap hari Sabtu untuk melihat update dari keluarga dan teman dekat. Tidak ada aplikasi nya di ponsel, dan hanya digunakan untuk orang-orang yang benar-benar dekat. Sehingga manfaat menjaga hubungan keluarga tetap didapat, tapi tidak membahayakan karena tidak ada aplikasi nya di ponsel, kita tidak bisa mengakses kapan saja di mana saja, yang bisa mengakibatkan major distraction dalam kehidupan sehari-hari. 

Menghabiskan Waktu Sendirian 

Dulu, ketika sedang menunggu di antrian, naik keandaraan umum, atau berjalan di jalan umum, adalah waktu-waktu dimana mau tidak mau kita harus sendirian dengan pikiran kita. Begitu muncul Walkman lalu iPod, waktu sendiri tersebut berkurang karena orang-orang mulai mendengarkan musik melalui earphone di mana saja. Diperparah dengan smartphone, kini setiap ada waktu kosong sedikit, mata akan tertuju pada ponsel. Teknologi-teknologi ini menyebabkan fenomena baru, solitude deprivation : keadaan dimana kita hampir sama sekali tidak ada waktu untuk sendirian dengan pikiran kita dan bebas dari input pihak luar. 

Padahal, kesendirian ini penting dan punya manfaat untuk diri kita. Melalui 'menyendiri' dan berpikir, kita akan mendapatkan wawasan dan keseimbangan emosi sebagai hasil dari refleksi diri yang tidak terburu-buru. 

Banyak kisah pemimpin dan tokoh dunia yang bisa mengambil keputusan dan menghasilkan pemikiran yang hingga kini masih dijadikan acuan, didapat dari hasil menyendiri. (Pada bagian ini saya teringat Nabi Muhammad saw, yang menyendiri ke gua hira karena merasakan kegelisahan atas kondisi Mekkah sebelum akhirnya mendapatkan wahyu)

Melalui kesendirian, kita bisa memperjelas permasalahan sulit yang sedang terjadi, mengatur emosi, membangun keberanian moral, dan memperkuat hubungan. Efek dari hilangnya waktu untuk sendirian paling terlihat pada generasi yang lahir setelah 1995, kelompok pertama yang memasuki masa praremaja dengan akses ke smartphone, tablet, dan koneksi internet yang tidak terputus. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa remaja Amerika yang lahir antara 1995-2012 mengalami depresi dan anxiety disorder. Angka kematian akibat bubuh diri pun meningkat tajam. Sesuatu yang jarang terjadi di generasi sebelumnya (milleninal). Perubahan ini terjadi ketika penggunaan smartphone mulai marak. Generasi yang disebut iGen ini tumbuh besar dengan ponsel dan media sosial, mereka tidak pernah merasakan masa di mana semua itu belum ada. Mereka membayar "keistimewaan" ini dengan kesehatan mental mereka. 

Para remaja ini tidak memiliki waktu untuk memahami emosi mereka, berpikir secara mendalam siapa diri mereka, menggali apa yang benar-benar penting bagi diri mereka, dan membangun hubungan yang kuat. Akibatnya adalah terjadi malfungsi di otak.

Padahal, manusia hakikatnya butuh waktu-waktu untuk menyendiri. Namun tanpa kita sadari,  kebutuhan itu secara sistematis telah dikurangi. Bagaimana caranya agar bisa mendapatkan kesendirian di masa yang sangat hyper-connected ini? Kesendirian tidak perlu dilakukan secara harfiah, seperti menyendiri ke dalam hutan atau semacamnya, tapi intinya keadaan dimana pikiran kita tidak mendapat input dari luar. Jadi ini tentang apa yang ada di pikiran, bukan tentang lingkungan sekitar. Praktik nyatanya adalah: 

    - meninggalkan ponsel di rumah : hidup tanpa ponsel sama sekali akan sangat membuat repot, tapi menghabiskan waktu berjam-jam di ponsel dalam sehari membuat kita tidak memiliki jeda. Hindari ponsel di sebagian besar waktu, misalnya dengan meletakkan di laci dapur begitu sampai di rumah, atau ketika sedang bepergian, meninggalkan ponsel di mobil saat sudah sampai di tujuan 

    - berjalan jauh secara rutin : jalan kaki dengan jarak yang jauh (kalau bisa di tempat yang pemandangannya bagus), tanpa membawa ponsel atau memakai earphone akan memberikan waktu untuk diri kita berpikir secara dalam, dan merefleksikan hal-hal yang terjadi dalam hidup

    - menulis jurnal : dapat menjauhkan diri dari konten adiktif dan hal-hal remeh di dunia maya, memahami hal yang terjadi dalam hidup, dan memproses nya secara terstruktur

Nah sekarang, anggap kamu sudah mengerti mengenai konsep dan pentingnya menerapkan digital minimalism. Tapi menjalaninya tentu tidak mudah. Kita terbiasa menjadikan dunia digital sebagai pendamping tetap dalam keseharian. Bangun tidur, ponsel adalah benda pertama yang kita cari. Ketika ada waktu kosong sedikit, media sosial adalah tempat yang kita tuju untuk dijadikan pelarian. Kita harus merebut kembali waktu luang yang berharga untuk diri kita dari dominasi ponsel. Beberapa caranya: 

    - prioritaskan kegiatan aktif dibandingkan konsumsi pasif. Ini dapat dipelajari di komunitas Financial Independence di Amerika, yang pensiun di usia muda, dan memiliki banyak waktu luang karena sudah tidak bekerja secara formal lagi. Untuk mengisi waktu luang tersebut, mereka bukannya bermain video games, web surfing, pergi ke bar, dll, tapi mengerjakan sesuatu yang membutuhkan aktivitas fisik. (Pete Adeney dan Liz  Thames adalah dua tokoh yang diceritakan dalam buku)

    - gunakan skill untuk menghasilkan produk fisik yang bernilai, seperti mebuat mebel dari kayu, merajut, merenovasi kamar mandi tanpa bantuan tukang, bermain gitar, dll. Intinya kegiatan yang membutuhkan hands-on experience

    - cari kegiatan yang membutuhkan interaksi sosial di dunia nyata. Contohnya olahraga berbasis komunitas seperti cross fit, yang konsepnya kebersamaan, berbeda dengan gym yang lebih individualis

Bergabung Dengan Gerakan Attention Resistance

Model bisnis yang mengumpulkan data pengguna untuk dijual kepada pengiklan disebut attention economy. Ternyata praktik ini sudah terjadi sejak 1830, oleh perusaahan koran cetak murah pertama di Amerika. Kemudian pada 1990 konsep ini mulai diadopsi ke dunia maya. Perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook menjadikan perhatian kita sebagai komoditi yang diperdagangkan, dengan memanfaatkan kelemahan yang ada di otak dan psikologis kita. Mereka ingin kita menggunakan produk mereka sebagaimana yang mereka kehendaki, bukan yang kita kehendaki. 

Attention Resistance, adalah sebuah gerakan perlawanan terhadap hal ini. Tujuannya adalah mendapatkan kembali otonomi atas diri kita sendiri. Perusahaan teknologi memiliki produk yang luar biasa bermanfaat untuk menunjang hidup, tapi kita harus menentukan sendiri bagaimana cara menggunakannya. Bergabunglah dengan gerakan ini, dengan cara: 'singgah' untuk mengekstrak manfaat, lalu menyelinap pergi sebelum jebakan perhatian tertutup. Bagaimana caranya?

    - Menghapus media sosial dari ponsel 

    Dengan adanya aplikasi media sosial di ponsel, kita punya akses mudah untuk membuka media sosial kapan pun dan dimana pun. Kalau kita masih membutuhkan media sosial, kita tetap bisa mengakses nya lewat komputer. Tidak ada lagi gangguan yang bisa menggangu aktivitas yang sedang kita kerjakan. Selain itu, dengan hanya bisa mengakses media sosial di komputer, hubungan kita dengan media sosial juga akan berubah. Berdasarkan pengalaman orang yang sudah menerapkan hal ini, mereka lebih sadar dalam bermedia sosial, hanya menggunakan untuk tujuan spesifik. Hal ini membuat perusahaan media sosial ketakutan. Mereka akan dengan senang hati menjabarkan manfaat yang bisa didapat dari menggunakan produk mereka, tapi mereka tidak akan pernah menjelaskan bahwa alasan utama agar pengguna mengakses produk mereka lewat ponsel adalah semata-mata untuk keuntungan perusahaan. 

    - Ubah komputer menjadi single purpose

    Ketika kita mengerjakan pekerjaan di komputer, sulit untuk tetap fokus sampai akhir karena kita bisa menyambil pekerjaan dengan pekerjaan lain, apalagi dengan koneksi internet. Untuk mengatasi ini, kita bisa menggunakan software semacam Freedom, yang memblokir komputer dari website dan aplikasi pengalih perhatian.

    - Gunakan media sosial secara profesional

    Mengatur waktu spesifik, kapan dan dimana bisa membuka media sosial. Bisa juga menggunakan software tambahan sebagai penunjang, yang bisa menghindarkan kita dari mengecek media sosial secara terus-menerus. 

    - Embrace slow media 

    Perilaku mengonsumsi berita saat ini terjadi dengan tidak sadar dan hati-hati. Biasanya kita mendapat berita terbaru dari media sosial, lalu dari sana kita akan berkunjung ke website berita, lalu berlanjut dari satu headline ke headline lain. Untuk medapatkan berita bisa dengan cara yang lebih smart, misalnya hanya membuka website, atau mengikuti berita dari media atau figur terpercaya. Atau mengakses berita terbaru sehari setelah nya, karena biasanya breaking news hanya memberitakan informasi yang belum utuh. Sementara berita yang sudah utuh akan terbit keesokan harinya (Ingat koran cetak?)

    - Smartphone -> dumbphone 

    Ketika kita sudah menerapkan praktik digital minimalism, kita akan sadar bahwa kita tidak se begitu butuhnya degan smartphone. Ada contoh pentinggi perusahaan yang justru menggunakan ponsel jadul untuk sekedar memenuhi kebutuhan utama dari ponsel: menelpon dan mengirim sms. 

Kesimpulan     

Praktik-praktik yang telah disebutkan di atas bukanlah praktik anti teknologi. Digital minimalism tidak menolak inovasi teknologi di era sekarang, melainkan menolak cara kebanyakan orang menggunakan teknologi saat ini. Harapan dari penulis adalah dengan digital minimalism kita bisa menjadikan teknologi terbaru bermanfaat untuk kita, bukan para konglomerat Silicon Valley, dan suatu saat kita akan berkata, "karena teknologi, saya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya". 

Comments