Skip to main content

Pengalaman Pribadi Stop Media Sosial : Mengapa dan Bagaimana


Tiga aplikasi media sosial yang ada di hp saya adalah Instagram, Twitter, dan Facebook. Untuk Facebook, tidak perlu banyak pertimbangan buat saya menghapus akun secara permanen. Sudah beberapa tahun belakangan saya nggak punya aplikasi nya di hp. Terakhir saya download lagi tujuannya untuk jualan, tapi setelah udah nggak jualan lagi, jarang saya buka. 

Instagram, buat saya adalah sumber informasi dan inspirasi. Tidak bisa dipungkiri, hidup sepertinya terpusat di Instagram (atau saya aja yang merasa begini?). Scrolling feed dan explore Instagram buat saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kota kecil dan nggak punya teman itu seperti jendela dunia. Saya bisa dapat kabar terbaru dari teman, baik yang cukup saya kenal ataupun yang nggak pernah ketemu di kehidupan nyata. Review buku dan film terbaru, banyak saya dapat dari postingan orang di Instagram. Belajar berkebun, ilmu parenting, inspirasi crafting, semuanya ada. 

Beda lagi kalau Twitter. Sebenernya saya juga udah lama nggak buka Twitter. Tapi gara-gara pandemi, saya download lagi untuk update berita terbaru yang biasanya nggak di bahas di media mainstream

Ketiga aplikasi ini punya banyak peran dan manfaat di kehidupan saya pribadi, sampai pada satu titik saya merasa media sosial sudah sangat mendominasi keseharian dan merasa hidup saya lebih fokus di dunia maya daripada di dunia nyata. 

I Didn't Sign Up For This 
Dulu waktu awal bikin akun Facebook, waktu itu tahun 2009, saya masih kelas 1 SMA. Friend list saya adalah teman-teman sekolah, dari TK-SMA. Rasanya seneng banget bisa ketemu lagi (walaupun di dunia maya) sama teman TK yang sudah lama nggak kontak, atau teman SMP yang udah nggak satu SMA lagi. Sampai entah kapan pastinya, isi feed saya lebih banyak orang-orang yang saya nggak kenal secara pribadi. Waktu pemilu presiden tahun 2014, orang mulai berdebat, bahkan sampai berantem, di kolom komen postingan seseorang yang ngebahas salah satu kandidat presiden. Waktu itu rasanya saya nggak kuat buka Facebook. 

Orang berdebat dan berantem juga bisa ditemukan di Twitter. Bahkan lebih parah. Twitter sekarang ini saya lihat seperti arena untuk bertarung. Kalau ada sekelompok orang yang punya keyakinan atau pendirian yang sama, mereka akan berkumpul, lalu memerangi kelompok lain yang bersebrangan dengan mereka. "Gue bener, lo salah. Ayo kita bully sama-sama!", kira-kira begitu. Saya sendiripun juga pernah beberapa kali "larut" dalam pusaran salah-salahan ini. Yang lebih parah lagi, banyak yang saling membuka aib, entah itu aib orang lain atau diri sendiri, dengan akun anonim atau akun asli. 

Orang-orang yang saling berdebat dan membully juga banyak di Instagram. Padahal dulu di masa awal Instagram, seingat saya isinya adalah tempat untuk mengupload hasil foto, terutama hasil foto dari kamera hp. Jarang saya lihat ada foto selfie (sepertinya dulu kata selfie belum ada). Bahkan dulu sampai ada #instameet, semacam kopdar untuk hunting foto sama-sama, yang hasilnya tentu aja, di upload di akun Instagram masing-masing. Sekarang kalau lihat isinya Instagram sudah jauh berubah, walaupun masih ada juga akun fotografi. Apalagi semenjak ada fitur story, saya rasa Instagram sekarang adalah semacam tempat untuk showcasing setiap detail kehidupan pribadi seseorang. 

Bagaimana wujud dari ketiga media sosial ini sekarang, meminjam salah satu judul chapter di Digital Minimalism, is what I didn't sign up for. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti. 

Media Sosial Bukan Tempat untuk Belajar
Ada orang yang pakai media sosial untuk mencari hiburan dari penatnya kerjaan atau sekolah. Konten yang biasa dikonsumsi di akunnya pun kebanyakan yang sifatnya "receh". Kalau saya justru sebaliknya. Karena dunia saya begitu kecil dan sehari-hari di rumah mengurus anak, saya jadikan Instagram tempat saya "belajar". 

Banyak profesional atau lembaga yang aktif bikin konten edukatif di Instagram. Saya pribadi follow psikolog, ustad, dan so called influencer yang menurut saya kontennya positif. Saya bisa dapet ilmu secara cuma-cuma dari post mereka. Tapi ternyata, saya akhirnya sadar kalau Instagram bukan lingkungan yang baik untuk belajar. Ibaratnya, seperti sedang belajar di pasar atau pinggir jalan tol; berisik. 

Dari tujuan awal Instagram dibuat, kita bisa paham alasannya. Instagram basis nya adalah menyampaikan informasi lewat foto (ditambah video sejak tahun 2013 ). Foto dan video itu sifatnya sangat terbatas. Dalam satu post kita hanya bisa upload maksimal 10 foto, caption pun dibatasi sehingga banyak orang mengakalinya dengan lanjut di kolom komen (ini sering bikin pusing), IGTV dan Live sekalipun terbatas waktunya hanya 1 jam, mau ngomong panjang lebar lewat teks yang di post di story juga harus dipause pakai jempol supaya bisa terbaca. 

Instagram juga rasanya sangat "berisik". Semua orang bisa bicara, dan semua orang bisa menjadi "guru". Di sinilah bahanya. Saya, dan mungkin orang tua muda lainnya, sangat suka belajar parenting. Saya butuh, dan selalu haus akan ilmu-ilmu parenting sebagai bekal saya yang clueless menjadi orang tua untuk pertama kalinya. Di Instagram, ada banyak sekali konten parenting dari psikolog yang memang profesional, juga dari akun personal yang sharing bagaimana dia mendidik anaknya. Ilmu parenting pun ada banyak sekali. Sampai saya pikir ini justru udah nggak sehat. Kalau saya mau megikuti terus konten parenting di Instagram, menyerap semuanya lalu benar-benar menerapkan ke anak, mungkin kalau anak saya itu permen, hasil akhirnya adalah nano-nano.

Kadang saya merasa meragukan apakah parenting saya ini benar, kok kalau lihat si A begini ya. Atau kalau saya nggak tau tentang montessori, sementara di feed saya semua orang post tentang itu, saya merasa ketinggalan. Lalu mempertanyakan kembali apakah saya kurang cukup belajar. 

Waktu mau mulai toilet training anak, saya nervous banget. Seperti mau ujian sekolah, saya mau mempersiapkan dulu dengan cara belajar. Saya browsing cara-caranya di Internet, Instagram tentu saja, dan tanya-tanya sama teman yang sudah berpengalaman. Sampai saya sadar, kenapa saya harus mencari keluar dulu? Padahal ini kan proses yang alamiah dan semua manusia pasti mengalami. Kenapa saya nggak coba "berdialog" dengan diri sendiri dulu sebelum mengikuti tips A,B,C dari Instagram? 

Confidence is Quiet, Insecurity is Loud
Dalam sebuah podcast, Cal Newport bilang kalau orang yang benar-benar kompeten itu cenderung diam dalam bekerja, sementara yang kurang kompeten justru ribut di media sosial untuk mendapat pengakuan. Oh dang! This really hit me hard. Waktu mulai berkebun dan ternyata berhasil di percobaan pertama, saya bangganya bukan main sampai nggak tahan untuk pamer keberhasilan saya di Instagram. Percobaan pertama saya itu membuat saya merasa seperti expert yang pantas untuk memberikan nasihat ke orang yang baru mau mulai berkebun setelah saya. Orang kayak saya, ada banyak di Instagram. 

Ketika saya mengulik lebih dalam ilmu berkebun dari Instagram, saya banyak menemukan konten yang terlihat sangat profesional dan bermanfaat. Pas saya lihat akunnya, ternyata baru berkebun kurang dari setahun. Atau baru mulai semenjak pandemi. Wow, post nya sudah seperti sarjana ilmu pertanian, saya pikir. Ini nggak masalah, karena ilmu memang harus dibagi. Tapi bisa jadi berbahaya, kalau terjadi di bidang selain berkebun, yang menyangkut masalah hidup, kesehatan misalnya. Ada orang sakit, sembuh setelah pakai minyak A, lalu di post di Instagram. Padahal belum tentu sembuh karena minyak itu. Kalau orang lain yang lihat sedang desperate mencari solusi dari penyakit yang sama, bisa-bisa menelan mentah-mentah post tersebut. 

Ketika ada orang yang baru terekspos atau mengalami suatu hal, lalu dia sebarkan di media sosial dengan tampilan yang sangat rapi bak profesional, padahal belum ada dasar yang kuat terhadap hal tersebut, bisa jadi berbahaya. Apalagi kalau dia punya banyak follower yang bisa menelan mentah-mentah apa saja yang diutarakannya di media sosial. Beda dengan orang yang menulis buku misalnya, ada proses berpikir, riset, elaborasi, lalu editing. 

Comparison is The Thief of Joy 
Satu hal yang sebenarnya sudah saya sadari sejak dulu, bahwa Instagram adalah tempat yang buruk untuk merasa bersyukur akan hidup kita saat ini. Saya sering merasa menjadi orang yang begitu menyedihkan. Saya ikut suami merantau ke Prabumulih, sebuah kota kecil yang namanya saja baru pertama kali saya dengar ketika suami bilang kalau dia mau apply kerja ke kantornya yang sekarang. Di kota ini nggak ada mall, pilihan makanan terbatas dan nggak ada yang rasanya enak banget, dan sangat membosankan. Di tahun pertama, saya sering merasa miserable kalau weekend lihat story Instagram, melihat orang-orang di pulau sebrang makan di restoran, pergi ke event, sementara saya di rumah aja karena nggak ada tujuan yang bisa dituju. Di tahun kedua saya mulai terbiasa dan turning point nya ketika pandemi, saya justru merasa sangat bersyukur tinggal di sini.

Ternyata saya sebenarnya nggak butuh mall, dan hidup di kota kecil tanpa macet ini sangat less stress. Hidup saya yang sebenarnya baik-baik aja, bahkan jauh lebih baik dibanding orang yang kurang beruntung, jadi terasa less happier kalau melihat post orang lain di Instagram. Wah si dia udah punya mobil, rumah sendiri, enak ya tinggal di luar negri. Pikiran-pikiran itu sering lewat kalau lagi buka Instagram. 

Lebih parah lagi, Instagram adalah tempatnya orang untuk pamer, nggak terkecuali saya. Ada tendensi untuk memberi tahu khalayak ramai; "look how happy my life is!". Ini nggak bener banget. Post foto makan siang hari ini, anak yang bertingkah lucu, seringkali membuat saya berpikir setelahnya, buat apa?

Alasan Sesungguhnya
Motivasi terkuat saya untuk menghentikan dominasi media sosial di hidup saya adalah anak. Saya nggak kerja di kantor atau sedang sekolah lagi, sehingga saya butuh menjauh dari media sosial supaya bisa fokus dengan kerjaan dan tugas kuliah. Sebagai ibu rumah tangga, anak adalah fokus saya. 

Waktu hamil saya pernah dengar ceramah yang bilang kalau parenting, itu adalah tentang orang tua, bukan anak. Namanya aja parent-ing, bukan children-ing, kata ustadnya bercanda. Ini masuk banget ke pikiran saya. Kalau kita mau anak kita jadi penghafal quran misalnya, kita lah orang tuanya yang harus lebih dulu menghafal quran. 

Pernah juga saya nonton video How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk. Inti dari videonya adalah bagaimana orang tua harus membangun komunikasi dengan anak step by step, brick by brick. Sehingga ketika mereka dewasa nanti, mereka akan menghabiskan waktu bersama orang tuanya bukan karena harus, tapi karena mau. 

Cal Newport, ditanya bagaimana tips nya untuk orang tua di era digital sekarang ini, bilang: jadilah model. Tunjukin ke anak kalau ada waktu luang, orang tuanya baca buku atau membuat sesuatu. Pokoknya kegiatan apapun selain stuck dengan hp. 

Di akhir film The Social Dillema, salah satu tokohnya bilang kalau jangan kasih anak hp dan media sosial sampai SMA. Orang-orang di tech company di Silicon Valley pun, banyak yang nggak memberikan anaknya gadget, apalagi memperbolehkan punya akun media sosial. 
 
Fitrah based eduaction, menjabarkan kalau dalam islam, sebenarnya umur 15 tahun itu bukan lagi remaja. Di usia tersebut anak sudah harus mukallaf, dilibatkan dalam kegiatan orang dewasa, dan harus sudah punya misi di dunia ini mau melakukan apa. Saya rasa, dengan segala distraction dari media sosial, agak mustahil untuk bisa mencapai tahap ini. 

Mereka semua mengatakan hal yang sama. Maka dari itu, karena saya tidak ingin anak saya terekspos media sosial yang lebih banyak buruk daripada baiknya, pertama-tama saya harus berhenti dulu. 

Setelah Berhenti Aktif 
Media sosial sudah mengisi hari-hari saya, ketika keberadaannya tidak ada lagi, saya pikir akan terjadi perubahan besar dalam hidup. Saya membayangkan hari pertama saya bangun pagi setelah mengahapus aplikasinya saya akan merasa seperti pribadi baru dengan wajah berseri, seperti di film-film. Tapi ternyata nggak kejadian. Kehidupan sehari-hari berjalan seperti biasa, sampai saya sadar.. 

Saya jadi bisa baca buku! 

Baca buku adalah hobi saya. Tapi, beberapa tahun belakangan ini saya merasa susah banget untuk bisa baca buku. Apalagi semenjak punya anak, rasanya mustahil bisa baca lebih dari satu buku dalam setahun. Setelah hapus aplikasi media sosial di hp, saya berhasil baca 5 buku dalam 3 minggu. Ini pencapaian besar banget buat saya. Sebelumnya untuk menghabiskan satu judul buku aja butuh waktu lebih dari sebulan. Selain bisa baca buku, saya juga akhirnya mulai olahraga lagi. Sudah sejak anak saya umur setahun, saya niat mau olahraga lagi, tapi nggak pernah terealisasi. Ini juga perubahan besar banget buat saya. 

Saya baru sadar, ternyata selama ini saya menjadikan mengurus rumah dan anak sendiri tanpa bantuan ART sebagai kambing hitam atas ketidakmampuan saya membaca buku dan olahraga. Sebagai ibu dari seorang anak balita, lihat hp itu nggak bisa sebebas kayak orang yang belum punya anak (kecuali kalau ada yang merasa baik-baik aja cuekin anak dengan main hp). Ada manusia kecil yang selalu menuntut perhatian dari saya. Dan saya selalu berusaha untuk nggak sibuk dengan hp di depan anak (ini susah banget!). Akhirnya saya memanfaatkan waktu-waktu dimana anak sedang tidur, itulah saat saya bisa buka hp dengan bebas. Setiap bangun pagi, saya pasti akan buka hp untuk cek apakah ada Whatsapp masuk (entah itu chatnya akan dibales atau nggak), lalu berlanjut buka Instagram dan Twitter. Saya merasa ada semacam "keharusan" untuk cek update terbaru dari orang-orang yang ada di dunia maya, baik kenal ataupun nggak. Ketika jam tidur siang, saya akan kembali buka hp, begitu juga malam hari, kalau nggak ketiduran duluan. 

Saya juga baru sadar, sepertinya salah satu penyebab saya susah menyelesaikan buku adalah karena saya susah fokus. Waktu kuliah dan Twitter lagi happening banget, saya sadar betul kalau saya jadi susah baca long form article gara-gara kebiasaan baca Tweet yang pendek-pendek. Baca berita pun, kebiasaan cuman headline nya aja (parahnya, dari headline langsung lompat ke kesimpulan tanpa baca isinya). 

Ketika buka hp untuk lihat media sosial, saya sering merasa terinspirasi. Misalnya ada yang review buku, saya akan save post nya dengan niat mau cari dan baca bukunya. Atau misalnya ada tutorial bikin kerajinan tangan, saya akan save dengan niat mau bikin kalau ada waktu, entah itu kapan. Ketika ada waktu luang lagi, bukannya merealisasikan apa yang sudah diniatkan, saya akan buka media sosial lagi, feeling inspired lagi, buka media sosial lagi, begitu seterusnya. Kenapa bisa begini? Karena waktu luang saat anak tidur itu adalah waktu istirahat saya, tentu lebih mudah dan enak untuk rebahan sambil mindless scrolling daripada ganti baju olahraga, ambil matras, dan mulai olahraga pakai aplikasi di hp. Atau baca buku non fiksi, memasukkan kata dan kalimat rumit ke dalam otak, memproses, lalu menginterpretasikannya. 

Tapi perasaan setelah merasa terinspirasi dari buka Instagram sangat berbeda dengan perasaan setelah berhasil menghabiskan 1 chapter buku, atau setelah menyelesaikan satu set olahraga di aplikasi. Saya baru sadar selama ini kegiatan ber media sosial saya ternyata sangat pasif.

Bulan lalu ketika ada long weekend, saya dan suami mengecat sendiri kontrakan kami. Alasan ngerjain sendiri selain supaya hemat nggak harus bayar tukang, juga untuk mengisi waktu libur panjang yang kalau nggak ada kegiatan khusus pasti saya dan suami akan main hp, internetan di laptop, atau nonton Netflix (karena kami nggak punya tujuan mau pergi kemana). Setelah mengecat 3 ruangan selama 3 hari, ada perasaan puas melihat hasilnya tempat tinggal kami jadi lebih bersih dan terang. Saya rasa perasaan ini nggak akan ada kalau kami hanya sekedar membayar tukang dan menunggu hasilnya. Atau selama 3 hari itu kami di rumah aja dan sibuk di dunia maya. 

Satu hal lagi yang akhirnya bisa saya mulai lakukan kembali adalah menulis. Dari kecil sampai sekarang sudah punya anak, saya masih menulis jurnal. Waktu masih SD-SMP, saya nulis di diary yang ada gemboknya. SMA masih nulis di diary dan mulai kenal blog. It was really a good time. Sebelum ada Twitter dan Instagram, semua orang punya blog dan hobi saya adalah blog walking (anak jaman sekarang, tau istilah ini nggak ya). Ketika Twitter dan Instagram muncul, blog mulai ditinggalkan, karena "menulis" di media sosial jauh lebih praktis dan menyenangkan daripada di jurnal pribadi atau blog. Cara kerjanya yang seperti slot machine bisa memberikan perasaan senang kalau setelah post sesuatu ada feedback dari orang lain. 

Menghidupkan kembali blog ini pun, karena saya nggak "main" Instagram dan Twitter lagi. Kebiasaan saya kalau ada interesting finds di internet, saya suka share di media sosial. Capture, tulis caption sok bijak, post di stroy. Praktis. Entah maksud dan pesan saya sampai atau nggak, yang penting di post. Beda dengan menulis di blog, untuk membuat satu tulisan aja saya butuh waktu berhari-hari. Mikir dulu, bikin kerangka tulisannya (apa yang mau disampaikan), nulis, baca berulang-ulang, baru terakhir di publish. Mudah-mudahan lebih banyak pesan yang tersampaikan dibanding hanya sekedar post di Instagram atau Twitter. 

Terakhir, yang paling penting, akhir-akhir ini saya merasa lebih "ringan". Sulit buat saya mendeskripsikan perasaan "ringan" ini, tapi sepertinya ini terjadi karena saya tidak lagi terus-menerus terkespos dengan kehidupan orang lain, dan mengkonsumsi berita dari dunia maya. Saya jadi lebih fokus dengan orang-orang yang ada bersama saya saat ini, dan tidak lagi sibuk mendokumentasikan apa yang sedang terjadi di kehidupan saya untuk di post dan dilihat oleh "virtual audience". 

Comments